Saturday, 2 August 2014

al-Azhar Untuk Kita



Al-Azhar Untuk Kita
By: Muhammad
Hari Raya Idul Fitri kalin ini saya menyempatkan waktu silaturrahmi pada semua keluarga yang berlokasi di Madura. Malam hari raya bertepatan pada pukul 00:00 saya melangkahkan kaki menuju tempat kelahiran Abah. Pada puku 04:00 morot Jupiter Z1 yang saya kendarai sampai dilokasi. Sesungguhnya jarak tempuh dari rumah saya kemadura Bangkalan hanya dua jam, manun karena saya tidak tahu jalannya sehingga nyasar dan menghabiskan waktu lebih banyak dari biasanya. Sepanjang jalan yang terlewati dikenal sebagai daerah rawan perampok, bahkan teman yang saya bonceng juga berkata demikian. Dengan penuh keyakinan serta niat menyambung tali persaudaraan sebagaimana yang dianjurkan oleh Allah dalam surah Ali ‘Imaran ayat 112 saya tetap menarik gas dengan penuh waspada.
Sebelum berangkat ke Madura saya mengira kebahagian bisa menyertai dan menjadi penghibur diri yang sedang kacau, galau, dan tidak bisa terkontrol. Akan tetapi, pada kenyataannya kebahagian itu hanya berlaku beberapa menit saja, selebihnya kata pahit yang terasa disana. Memang saya bukan tipe orang yang cepat tersinggung kala bercanda atau dihina, tapi jika ada orang yang menghina tempat pencarian  ilmu saya, jangan harap saya akan diam dan tidak membanrahnya.
Tidak bisa dipungkiri, pendidikan dan semangat mencari ilmu dari keluarga Madura sangat tinggi. Di antara mereka ada yang hijrah ke Yaman, Saudi Arabiyah, Malaisiya, dan lain-lain. Hanya saya seorang yang hijrah menuju Mesir. Saya tidak pernah komentar prihal pendidikan dalam Negara-negara mereka, hanya dengan satu alasan, saya tidak pengalaman sekolah ditempat selain al-Azhar, Kairo, Mesir. Tapi mengapa mereka komentar masalah pendidikan yang ada di al-Azhar? Sedangkan mereka sendiri tidak pernah mengenyam bangku di sana.
Mereka beranggapan bahwa al-Azhar perfikirkan golongan kekanan-kananan ‘Wahabi’, sehingga orang-orang al-Azhar menolak tradisi yang dibumikan para wali songo, orang al-Azhar menolak adanya tahlilan, ziarah kubur, dan lain-lain.
Mendengar perkataan tersebut, saya hanya bisa tersenyum dan berkata, jika tidak tahu seperti apa al-Azhar lebih baik jangan membicarakan al-Azhar. Apakah lain semua tidak membaca sejarah perkembangan keilmuan Islam yang pada awalnya pusan keilmuan bertempatkan di Iraq dan setelah Iraq ditaklukkan oleh Hulaku pusat keilmuan berpindah di Mesir yang mana al-Azhar menjadi pusatnya?
Apakah kalin tidak memabaca biografi pengarang-pengarang kitab yang telah kalin konsumsi baik di Yaman, Saudi, ataupun Indonesia. Dari mana tempat kelahiran dan dikuburkan jenazahnya para pengarang tersebut? Imam Shafi’I makamnya ada di mana? ‘Athaillah al-Sakandari pengarang kitab Hikam dari mana? Ibnu Abi Jamarah ahli hadis, Albusiri mengarang Burdah, Jalaluddin al-Suyuthi pengarang kitab tafsir Jalalain dan kitab Durrul Mantsur, Ibnu Hajar al-Atsqalani pengarang kitab Fathul Bari, al-Sharqawi, Zakaria al-Anshari,  Muhammad Sayyid al-Tantawi mengarang kitab tafsir al-Wasith, Ali Jumah, dll mereka semua berasal dari mana? Mereka kelahiran mana? Mereka dimakamkan di mana?
Al-Azhar adalah tempat paling netral dan seteril bagi orang yang hendak mencari ilmu. Manhaj di al-Azhar sama sekali tidak berbeda dengan Indonesia yaitu golongan yang dikenal dengan Ahli Sunnah wal Jama’ah. Al-Azhar sangat bertolak belakang dengan bayangan kalian. Cobalah kalin fikir tanpa peran orang-orang Mesir dan al-Azhar, apakah kalin bisa mengenal nama-nama di atas dan bisa mengambil ilmu dari mereka?
Pemungkas dari ungkapan saya, semua sekolahan itu bagus hanya bagaimana usaha kita dan kegigihan kita saat berenang di dalamnya. Jika kita hanya berdiam ditepi, maka keindahan dasar laut tidak akan kita saksikan.

No comments:

Post a Comment