Al-Azhar Untuk Kita
By: Muhammad
Hari Raya Idul Fitri kalin ini saya menyempatkan waktu
silaturrahmi pada semua keluarga yang berlokasi di Madura. Malam hari raya
bertepatan pada pukul 00:00 saya melangkahkan kaki menuju tempat kelahiran
Abah. Pada puku 04:00 morot Jupiter Z1 yang saya kendarai sampai dilokasi.
Sesungguhnya jarak tempuh dari rumah saya kemadura Bangkalan hanya dua jam,
manun karena saya tidak tahu jalannya sehingga nyasar dan menghabiskan
waktu lebih banyak dari biasanya. Sepanjang jalan yang terlewati dikenal
sebagai daerah rawan perampok, bahkan teman yang saya bonceng juga berkata
demikian. Dengan penuh keyakinan serta niat menyambung tali persaudaraan
sebagaimana yang dianjurkan oleh Allah dalam surah Ali ‘Imaran ayat 112 saya
tetap menarik gas dengan penuh waspada.
Sebelum berangkat ke Madura saya mengira kebahagian
bisa menyertai dan menjadi penghibur diri yang sedang kacau, galau, dan tidak
bisa terkontrol. Akan tetapi, pada kenyataannya kebahagian itu hanya berlaku
beberapa menit saja, selebihnya kata pahit yang terasa disana. Memang saya
bukan tipe orang yang cepat tersinggung kala bercanda atau dihina, tapi jika
ada orang yang menghina tempat pencarian
ilmu saya, jangan harap saya akan diam dan tidak membanrahnya.
Tidak bisa dipungkiri, pendidikan dan semangat mencari
ilmu dari keluarga Madura sangat tinggi. Di antara mereka ada yang hijrah ke
Yaman, Saudi Arabiyah, Malaisiya, dan lain-lain. Hanya saya seorang yang hijrah
menuju Mesir. Saya tidak pernah komentar prihal pendidikan dalam Negara-negara
mereka, hanya dengan satu alasan, saya tidak pengalaman sekolah ditempat selain
al-Azhar, Kairo, Mesir. Tapi mengapa mereka komentar masalah pendidikan yang
ada di al-Azhar? Sedangkan mereka sendiri tidak pernah mengenyam bangku di
sana.
Mereka beranggapan bahwa al-Azhar perfikirkan golongan
kekanan-kananan ‘Wahabi’, sehingga orang-orang al-Azhar menolak tradisi yang
dibumikan para wali songo, orang al-Azhar menolak adanya tahlilan, ziarah
kubur, dan lain-lain.
Mendengar perkataan tersebut, saya hanya bisa
tersenyum dan berkata, jika tidak tahu seperti apa al-Azhar lebih baik jangan
membicarakan al-Azhar. Apakah lain semua tidak membaca sejarah perkembangan
keilmuan Islam yang pada awalnya pusan keilmuan bertempatkan di Iraq dan
setelah Iraq ditaklukkan oleh Hulaku pusat keilmuan berpindah di Mesir yang
mana al-Azhar menjadi pusatnya?
Apakah kalin tidak memabaca biografi
pengarang-pengarang kitab yang telah kalin konsumsi baik di Yaman, Saudi,
ataupun Indonesia. Dari mana tempat kelahiran dan dikuburkan jenazahnya para
pengarang tersebut? Imam Shafi’I makamnya ada di mana? ‘Athaillah al-Sakandari
pengarang kitab Hikam dari mana? Ibnu Abi Jamarah ahli hadis, Albusiri
mengarang Burdah, Jalaluddin al-Suyuthi pengarang kitab tafsir Jalalain dan
kitab Durrul Mantsur, Ibnu Hajar al-Atsqalani pengarang kitab Fathul Bari,
al-Sharqawi, Zakaria al-Anshari,
Muhammad Sayyid al-Tantawi mengarang kitab tafsir al-Wasith, Ali Jumah,
dll mereka semua berasal dari mana? Mereka kelahiran mana? Mereka dimakamkan di
mana?
Al-Azhar adalah tempat paling netral dan seteril bagi
orang yang hendak mencari ilmu. Manhaj di al-Azhar sama sekali tidak berbeda
dengan Indonesia yaitu golongan yang dikenal dengan Ahli Sunnah wal Jama’ah.
Al-Azhar sangat bertolak belakang dengan bayangan kalian. Cobalah kalin fikir
tanpa peran orang-orang Mesir dan al-Azhar, apakah kalin bisa mengenal
nama-nama di atas dan bisa mengambil ilmu dari mereka?
Pemungkas dari ungkapan saya, semua sekolahan
itu bagus hanya bagaimana usaha kita dan kegigihan kita saat berenang di dalamnya.
Jika kita hanya berdiam ditepi, maka keindahan dasar laut tidak akan kita
saksikan.
No comments:
Post a Comment