Saturday, 2 August 2014

Pemerintah dalam Perspektif al-Qur'an



Pemerintah dalam Perspektif al-Qur’an
By: Muhammad
Jika kekuasaan dipasrahkan pada orang yang bukan halinya, maka kehancuran akan segera menghampiri. (H.R. al-Bukhari)
Pemilu pada tahun 2014 menjadi topik hangat yang selalu dibincangkan oleh semua masyarakat Indonesia baik dalam maupun luar negeri, sebab peresiden yang akan terpilih menjadi penentu keseuksesan dan kejayaan Negara Indonesia dan umat Islam di Indonesia. Bukan hal yang mudah dalam menentukan pilihan saat masuk dalam ruang pencoblosan, namun semua itu butuh kewaspadaan dan berfikir berkali-kali agar tidak salah dalam memilih, kerena suara kita menjadi penentu Indonesia limat tahun kedepan.
Al-Qur’an merupakan kitab suci Allah yang tidak akan musnah hingga akhir zaman kelak. Al-Qur’an merupakan satu-satunya panduan hidup yang tidak terdapat keraguan sedikitpun dan yang menjelaskan segala problematika kehidupan manusia. Dalam al-Qur’an telah menjelaskan ciri-ciri calon penguasa yang harus bisa dipilih agar kesuksesan dan kejayaan berpikah kepada kita (umat Islam).
Allah berfirman dalam surat al-Nisa>’ ayat 59
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulul Amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian.
Ayat di atas merupakan sebuah seruhan bagi semua umat Islam agar taat kepada Allah, Rasul, dan penguasa, namun penguasa yang bagiamana sehingga kita harus mentaatinnya? Apakah semua pemimpin yang terpilih dengan sah harus ditaati? Sepetia apa pemimpin yang harus ditaati?
Pertanyaan di atas terjawab dengan jelas dalam firman Allah surat al-Nisa>’ ayat 58
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَماناتِ إِلى أَهْلِها وَإِذا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كانَ سَمِيعاً بَصِيراً
Sungguh, Allah Menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara menusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang Memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.
Ibu Jarir al-Tabari dalam kitabnya Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim menjelaskan maksud ayat di atas ialah dikhususkan pada seorang pemimpin. Bagi seorang pemimpin harus bisa menyampaikan amanat pada yang berhak, pemimpin yang selalu perhatian pada masyarakat, memberikan keadilan dalam segala keputuasn, serta menyama ratakannya.
Jika pemimpin tidak memiliki kreteria sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka bagi masyarakat (orang yang dipimpin) tidak harus mendengarkan ucapannya dan tidak usah mentaatinya. Itulah yang bisa dipetik dari surat al-Nisa>’ ayat 58.
Al-Bughawi meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata “Rusulullah tidak berkhutbah kecuali beliau berkata, ‘Tidak ada iman (ketaatan) bagi orang yang tidak amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak berjanji’.” (H. R. Ahmad. 3/135)
Dari keterangan di atas bisa disimpulkan orang yang layak menjadi pemimpin ialah mereka yang bisa menebarkan keadilan, bisa dipercaya, menyama ratakan masyarakat dan yang pasti harus beragama Islam.
Menjelang pemilun ini, mari kita berhati-hati dalam memasrahkan hak pilih, ini adalah penentu kesuksesan dan kegagalan Negara Indonesia. Kita lihat teliti terlebih dahulu larat belangan dari masing-masing kandidat dan jangan sampai terkecoh sodoran kertas yang bernominal. Wa Allâhu a’lam bi as-Shawâb

No comments:

Post a Comment