Pemerintah dalam Perspektif al-Qur’an
By: Muhammad
Jika kekuasaan dipasrahkan pada orang yang bukan
halinya, maka kehancuran akan segera menghampiri. (H.R. al-Bukhari)
Pemilu pada tahun 2014 menjadi topik hangat yang
selalu dibincangkan oleh semua masyarakat Indonesia baik dalam maupun luar
negeri, sebab peresiden yang akan terpilih menjadi penentu keseuksesan dan
kejayaan Negara Indonesia dan umat Islam di Indonesia. Bukan hal yang mudah
dalam menentukan pilihan saat masuk dalam ruang pencoblosan, namun semua itu
butuh kewaspadaan dan berfikir berkali-kali agar tidak salah dalam memilih,
kerena suara kita menjadi penentu Indonesia limat tahun kedepan.
Al-Qur’an merupakan kitab suci Allah yang tidak akan
musnah hingga akhir zaman kelak. Al-Qur’an merupakan satu-satunya panduan hidup
yang tidak terdapat keraguan sedikitpun dan yang menjelaskan segala
problematika kehidupan manusia. Dalam al-Qur’an telah menjelaskan ciri-ciri
calon penguasa yang harus bisa dipilih agar kesuksesan dan kejayaan berpikah
kepada kita (umat Islam).
Allah berfirman dalam surat al-Nisa>’ ayat 59
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ
وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan
taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulul Amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian.
Ayat di atas merupakan sebuah seruhan bagi semua umat
Islam agar taat kepada Allah, Rasul, dan penguasa, namun penguasa yang
bagiamana sehingga kita harus mentaatinnya? Apakah semua pemimpin yang terpilih
dengan sah harus ditaati? Sepetia apa pemimpin yang harus ditaati?
Pertanyaan di atas terjawab dengan jelas dalam firman
Allah surat al-Nisa>’ ayat 58
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَماناتِ
إِلى أَهْلِها وَإِذا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كانَ سَمِيعاً بَصِيراً
Sungguh, Allah Menyuruhmu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara menusia
hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang
Memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.
Ibu Jarir al-Tabari dalam kitabnya Jami’ al-Bayan
fi Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim menjelaskan maksud ayat di atas ialah
dikhususkan pada seorang pemimpin. Bagi seorang pemimpin harus bisa
menyampaikan amanat pada yang berhak, pemimpin yang selalu perhatian pada
masyarakat, memberikan keadilan dalam segala keputuasn, serta menyama
ratakannya.
Jika pemimpin tidak memiliki kreteria sebagaimana yang
telah disebutkan di atas, maka bagi masyarakat (orang yang dipimpin) tidak
harus mendengarkan ucapannya dan tidak usah mentaatinya. Itulah yang bisa
dipetik dari surat al-Nisa>’ ayat 58.
Al-Bughawi meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia
berkata “Rusulullah tidak berkhutbah kecuali beliau berkata, ‘Tidak ada iman
(ketaatan) bagi orang yang tidak amanah dan tidak ada agama bagi orang yang
tidak berjanji’.” (H. R. Ahmad. 3/135)
Dari keterangan di atas bisa disimpulkan orang yang
layak menjadi pemimpin ialah mereka yang bisa menebarkan keadilan, bisa
dipercaya, menyama ratakan masyarakat dan yang pasti harus beragama Islam.
Menjelang pemilun ini, mari kita berhati-hati dalam
memasrahkan hak pilih, ini adalah penentu kesuksesan dan kegagalan Negara
Indonesia. Kita lihat teliti terlebih dahulu larat belangan dari masing-masing
kandidat dan jangan sampai terkecoh sodoran kertas yang bernominal. Wa Allâhu a’lam bi as-Shawâb
No comments:
Post a Comment