Wednesday, 16 July 2014

Posisi Shalat dalam Islam



Posisi Shalat Dalam Islam
By: Muhammad
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya dan orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan tidak berguna,  orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan sungguh-sungguh orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang yang memelihara shalatnya.
(SQ. Al-Mu’minun 1-9)
Agama Islam memerintahkan dengan sangat agar semua umat Islam menjalankan ibadah shalat dan mewanti-wanti orang yang meninggalkan shalat, sebab shalat  adalah tiang agama Islam, pintu surga yang diharapkan selama ini, pertama kali amal yang akan dipertanggungjawabkan kelak pada hari kiamat, dan paling mulianya ibadah kepada Allah.
Begitu agungnya shalat sehingga Nabi Ibarahim as bedoa khusyu’ dan meneteskan air mata berharap agar supaya diri dan semua anak turunnya menjalankan perintah shalat, tidak ada satupun dari anak turunnya yang melalaikan bahkan meremehkan shalat. Ibrahim as tidak hanya berdoa, namun ia berharap agar doanya dikabulkan Allah. Allah menjelaskan dalam al-Qur’an surat Ibrahim ayat 40:
(رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء)
Artinya: “Ya Tuhan-ku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku.
Bila dilihat lebih dalam lagi, setingkat Nabi Ibarahim as bergelar kekasih Allah dan ayah para nabi selalu berdoa tidak meninggalkan shalat serta anak turunnya bisa menegakkan shalat apa lagi kita yang tidak mempunyai titel di sisi Allah. Doa yang terlantun dari kedua bibir Ibrahim as tergolong doa pailng mulia nan bijaksana. Bagaimana tidak? Logika normal pasti menginginkan diri sendiri dan anak turunnya selamat dari semua siksa dan mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat. Shalat merupakan kunci kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Apakah Anda rela dipukul, dicambuk, dan disakiti? Berdiam diri kah Anda saat melihat anak Anda dihajar habis-habisan oleh temannya? Mungkin hanya orang abnormal yang tetap berpangku tangan sewaktu dirinya atau anak turunnya dihajar habis-habisan.
Mari kita mengambil sedikit pelajaran dari kisah Nabi Ibarahim di atas. Kita tegakkan dan jalankan shalat dengan benar, senantiasa berdoa seperti doa Nabi Ibarahim as di atas, agar kelak kita bisa masuk dalam surga Allah dan bisa mendapatkan kebagaiaan, ketentraman, dan kesuksesan di dunia. Penulis pernah membaca satu kalam hikmah mengenai keindahan shalat, dengan perantaraan menekuni ibadah shalat umat Islam akan merasakan kenyamanan dalam menempuh perjalanan hidup di dunia. Dan bila umat Islam merasa goncang, bimbang, galau, susah, dan stres maka yang harus dikoreki adalah shalatnya.
(إذا شعرت أنك لا تعيش جيدا, فاعلم أنك لا تصلى جيدا)
Artinya: “Jika kamu merasa hidupmu tidak nyaman maka ketahuilah bahwa kamu belum menjalankan shalat dengan benar.
Al-Qur’an pun memuji Nabi Ismail as, sosok yang selalu memerintahkan semua keluarga dan kaumnya menegakkan shalat sebagaimana yang diperintahkan Allah pada masa itu. Pujian  Allah pada Nabi Ismail as ini diabadikan dalam al-Qur’an, tercatat dalam surat Maryam ayat 54-55:
(وَاذْكُرْ فِي الْكِتابِ إِسْماعِيلَ إِنَّهُ كانَ صادِقَ الْوَعْدِ وَكانَ رَسُولاً نَبِيًّا (54) وَكانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكاةِ وَكانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا)
Artinya: “Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Ismail di dalam kitab (al-Qur’an). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi. Dan dia memerintah keluarganya untuk melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan dia seorang yang diridlai di sisi Tuhan-Nya.
Jika orang yang memerintah dan menegakkan shalat mendapatkan penghargaan dari Allah seperti yang dilakukan oleh Nabi Ismail as, apakah kita tidak ingin mendapatkan penghargaan dari Allah juga seperti kisah Nabi Ismail? Dengan menegakkan shalat dan memerintah orang lain menjalankan shalat, kita akan mendapatkan ridla dari Allah. Orang yang mendapat ridla dari Allah otomatis akan mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat, sebab Allah tidak akan rela kekasihnya mengalami kesengsaraan.
Nabi Muhammad saw dan semua umatnya pun juga diperintahkan untuk menegakkan shalat, menjadikan shalat sebagai kunci hidayah Allah, dan orang yang melalaikan shalat dengan mengulur waktu hingga lewat dari batas mendapatkan ancaman dari Allah. Firman Allah dalam surat Maryam ayat 59:
(أَضاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَواتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا)
Artinya: “Orang-orang yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginannya maka mereka kelak akan tersesat.
Kesesatan dan buta akan jalan tujuan hidup merupakan ancaman Allah pada mereka yang tidak pernah menghargai waktu shalat. Hidup adalah perjalanan sementara menuju kehidupan abadi di akhirat, bila kita sudah tersesat dari jalan yang seharusnya dilewati, bila kita sudah buta dan tidak bisa meraba jalan yang benar, apakah kita bisa sampai pada tujuan perjalanan kita? Hanya maya yang bisa menyampaikan kita, bukan dunia nyata.
Tiada satupun alasan atau dispensasi bagi orang Islam untuk meninggalkan shalat, walaupun di tengah-tengah perjalanan, dalam keadaan aman atau takut, sehat atau kritis, dan bahkan sekarat pun shalat masih harus tetap dilaksanakan. Bukanlah sebuah alasan tidak bisa berdiri hingga muslim meninggalkan shalat, bukanlah alasan bagi orang yang tidak mengetahui kiblat untuk meninggalkan shalat, dan bukanlah alasan tidak memiliki baju bisa meninggalkan shalat, sebab shalat masih tetap bisa dilaksanakan dengan posisi duduk bagi yang tidak mampu berdiri, berbaring bagi yang tidak bisa duduk, kedipan mata bagi yang tidak tidak bisa keduanya, dan isyarat hati bagi yang tidak mampu ketiga-tiganya. Demikian pula, boleh menjalankan shalat dalam keadaan telanjang bagi orang yang tidak memiliki baju sama sekali. Allah berfirman dalam surat  al-Baqarah ayat 238:
(حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ)
Artinya: “Peliharalah semua shalat dan shalat Wustha. Dan laksanakanlah shalat karena Allah dengan khusyuk.
Keislaman seseorang bukan dilihat dari KTP atau EKTPnya, namun Nabi Muhammad menjadikan shalat sebagai tanda keislaman, menjadikan shalat sebuah syiar pemisah antara orang Islam dan orang kafir, Rasul saw menyamakan orang yang meninggalkan shalat dengan orang yang tertimpa musibah baik dalam segi harta maupun keluarganya dan ia seakan-akan hidup dalam kesendirian sebagaimana sabda Rasul saw dalam Hadits riwayat Ibnu Hibban:
(مَنْ فَاتَتْهُ صَلَاةٌ فَكَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ)
Artinya: “Barang siapa meninggalkan satu shalat saja maka ia bagaikan orang yang hidup dalam kesepian tanpa keluarga dan hartanya.
Hadits di atas menjelaskan bahwa satu kali saja kita meninggalkan shalat bagaikan orang yang terkena musibah dalam keluarga dan hartanya sehingga hidup dalam keadaan menyendiri tanpa adanya sanak famili yang menemani dan tidak memiliki satu harta pun, apalagi jika kita meninggalkan semua shalat lima waktu yang telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya?
Kehidupan orang yang menjalankan shalat selalu diterangi oleh cahaya terang benderang sehingga perjalanan di dunia tidak berada dalam gelap gulita. Hidup penegak shalat layaknya orang yang mendapatkan hidayah dari Allah sehingga hidupnya tidak tersesat dari jalan lurus yang diridlai Allah. Orang  yang selalu  istiqamah melaksanakan shalat akan selamat kelak di akhirat. Sedangkan orang yang melalaikan shalat selalu dalam keadaan gelap, tanpa adanya petunjuk, tidak selamat di akhirat, dan pada hari kiamat kelak ia akan bersama Qarun, Firaun, Haman, dan Ubai bin Khalaf. Penjelasan ini tercantum dalam Hadits Rasul saw yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban:
(أَنَّهُ ذَكَرَ الصَّلاَةَ يَوْمًا ، فَقَالَ : مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يكُنْ لَهُ نُورٌ ، وَلاَ بُرْهَان ، وَلاَ نَجَاة وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ ، وَفِرْعَونَ ، وَهَامَانَ ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ)
Artinya: “Sesungguhnya pada suatu ketika Rasul saw mengingatkan shalat. Beliau berkata: “Barang siapa menjaga shalat maka ia mendapatkan cahaya, petunjuk, dan mendapatkan keselamatan kelak di akhirat. Dan barang siapa tidak menjaga shalatnya maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, tidak selamat kelak pada hari kiamat, dan ia bersama dengan Qarun, Firaun, Haman, dan Ubai bin Khalaf.
Penjelasan ulama tentang Hadits di atas adalah orang yang meninggalkan shalat disebabkan kesibukan harta maka kelak ia akan bersama dengan Qarun, orang yang lalai akan kewajiban shalat dengan alasan kesibukan mengatur kekuasaan yang ia emban maka hari kiamat ia akan bersama Firaun, peninggal shalat sebab kesibukan jabatan akan bersama Haman, dan bersama Ubai bin Khalaf bagi orang yang meninggalkan shalat sebab kesibukan dengan harta duniawinya.[1]
Lebih dari itu, orang yang meninggalkan shalat bisa dinobatkan sebagai orang kafir, sebab dalam Hadits Rasul saw menjelaskan: “Perjanjian antara kita (orang Islam) dan orang munafik adalah shalat. Orang yang meninggalkan shalat maka ia tergolong orang kafir.” Oleh karena itu, tidak heran bila semua ulama Fikih menyatakan wajib hukumnya menjalankan ibadah shalat dan bagi peninggal shalat dihukumi kafir.[2]
Tidak heran bila dalam al-Qur’an, Hadits Rasul saw, dan perkataan ulama Fikih sangat menganjurkan dan memperketat agar menegakkan shalat lima waktu, sebab orang yang meninggalkan shalat bisa dihukumi sebagai orang kafir dan keluar dari ajaran agama Islam. Bila orang Islam tidak mengerjakan shalat maka dikhawatirkan orang tersebut kehilangan kontrol kemudian keluar dari iman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Keterangan di atas merupakan sebuah cuplikan dari posisi shalat dalam agama Islam. Ketika diteliti lagi, shalat adalah pertama kalinya ibadah yang diwajibkan Allah pada semua orang Islam. Shalat diwajibkan di Makkah tiga tahun sebelum diperintahkannya Rasul saw untuk berhijrah ke Madinah. Metode penyampaian kewajiban shalat pun berbeda dengan metode penyampaian ibadah lain, sebab posisi semua ibadah selain shalat diwajibkan di bumi, sedangkan hanya ibadah shalatlah yang posisinya diwajibkan di atas langit sewaktu Isra’ dan Mi’raj dengan menggunakan dialog langsung dari Allah pada Nabi kita Muhammad saw.
Oleh karena itu, bila kita muslim atau muslimah, mencintai Allah, Rasul-Nya, agama Islam, percaya kebenaran agama Islam, dan hanya agama Islam agama paling benar maka mari kita bersama merenungi kewajiban shalat, saling mengoreksi diri dan menegakkan shalat lima waktu dengan harapan kita semua bisa menjadi hamba yang diridlai, dan mendapatkan surga Allah di akhirat, serta agar kita tidak tergolong dalam katagori orang-orang Islam KTP, orang yang mendapatkan predikat kafir, orang yang buta, dan tersesat.



[1] Yusuf al-Qordhowi, Al-Ibadah Fi al-Islam, (Maktabah Wahbah, 1995 M./1416 H.), cet.II, h.224.
[2] Abdurrahman bin Abi Bakar Abul Fadhal as-Suyuthi, Syarhu as-Suyuthi li Sunan an-Nasai, (Maktabah al-Mathbua’ah al-Islamiyah, 1986 M./1406 H.), cet.II, jld.1, h.231.

No comments:

Post a Comment