Posisi Shalat Dalam Islam
By: Muhammad
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyuk
dalam shalatnya dan orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan
tidak berguna, orang yang menunaikan
zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri
mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak
tercela. Tetapi barang siapa
mencari di balik itu maka
mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan sungguh-sungguh orang yang
memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang yang memelihara shalatnya.”
(SQ. Al-Mu’minun 1-9)
Agama
Islam memerintahkan dengan sangat agar semua umat Islam menjalankan ibadah
shalat dan mewanti-wanti orang yang meninggalkan shalat, sebab shalat adalah tiang agama Islam, pintu surga yang
diharapkan selama ini, pertama kali amal yang akan dipertanggungjawabkan kelak
pada hari kiamat, dan paling mulianya ibadah kepada Allah.
Begitu
agungnya shalat sehingga Nabi Ibarahim as bedoa khusyu’ dan meneteskan air mata
berharap agar supaya diri dan semua anak turunnya menjalankan perintah shalat,
tidak ada satupun dari anak turunnya yang melalaikan bahkan meremehkan shalat.
Ibrahim as tidak hanya berdoa, namun ia berharap agar doanya dikabulkan Allah.
Allah menjelaskan dalam al-Qur’an surat
Ibrahim ayat 40:
(رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ
الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء)
Artinya: “Ya Tuhan-ku, jadikanlah
aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami
perkenankanlah doaku.”
Bila dilihat lebih dalam lagi, setingkat Nabi Ibarahim
as bergelar kekasih Allah dan ayah para nabi selalu berdoa tidak meninggalkan
shalat serta anak turunnya bisa menegakkan shalat apa lagi kita yang tidak
mempunyai titel di sisi Allah. Doa yang terlantun dari kedua bibir Ibrahim as
tergolong doa pailng mulia nan bijaksana. Bagaimana tidak? Logika normal pasti
menginginkan diri sendiri dan anak turunnya selamat dari semua siksa dan
mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat. Shalat merupakan kunci kebahagiaan baik di
dunia maupun di akhirat. Apakah Anda rela dipukul, dicambuk, dan disakiti?
Berdiam diri kah Anda saat melihat anak Anda dihajar habis-habisan oleh temannya?
Mungkin hanya orang abnormal yang tetap berpangku tangan sewaktu dirinya atau anak turunnya dihajar habis-habisan.
Mari kita mengambil sedikit pelajaran dari kisah Nabi
Ibarahim di atas. Kita tegakkan dan jalankan shalat dengan benar, senantiasa
berdoa seperti doa Nabi Ibarahim as di atas, agar kelak kita bisa masuk dalam
surga Allah dan bisa mendapatkan kebagaiaan, ketentraman, dan kesuksesan di
dunia. Penulis pernah membaca satu kalam hikmah mengenai keindahan shalat,
dengan perantaraan menekuni ibadah shalat umat Islam akan merasakan kenyamanan
dalam menempuh perjalanan hidup di dunia. Dan bila umat Islam merasa goncang,
bimbang, galau, susah, dan stres maka yang harus dikoreki adalah shalatnya.
(إذا شعرت أنك لا تعيش جيدا,
فاعلم أنك لا تصلى جيدا)
Artinya: “Jika kamu merasa hidupmu tidak nyaman maka
ketahuilah bahwa kamu belum menjalankan shalat dengan benar.”
Al-Qur’an pun memuji Nabi Ismail as, sosok yang selalu
memerintahkan semua keluarga dan kaumnya menegakkan shalat sebagaimana yang diperintahkan Allah pada masa itu. Pujian Allah pada Nabi Ismail as ini diabadikan dalam al-Qur’an,
tercatat dalam surat Maryam ayat 54-55:
(وَاذْكُرْ فِي الْكِتابِ
إِسْماعِيلَ إِنَّهُ كانَ صادِقَ الْوَعْدِ وَكانَ رَسُولاً نَبِيًّا (54) وَكانَ
يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكاةِ وَكانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا)
Artinya: “Dan ceritakanlah
(Muhammad), kisah Ismail di dalam kitab (al-Qur’an). Dia benar-benar seorang
yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi. Dan dia memerintah keluarganya untuk
melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan dia seorang yang diridlai di sisi Tuhan-Nya.”
Jika orang yang memerintah
dan menegakkan shalat mendapatkan
penghargaan dari Allah seperti yang dilakukan oleh Nabi Ismail as, apakah kita
tidak ingin mendapatkan penghargaan dari Allah juga
seperti kisah Nabi Ismail?
Dengan menegakkan shalat dan memerintah orang lain menjalankan shalat, kita
akan mendapatkan ridla dari Allah. Orang yang mendapat
ridla dari Allah otomatis akan mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia
dan akhirat, sebab Allah tidak akan rela kekasihnya mengalami kesengsaraan.
Nabi Muhammad saw dan semua umatnya pun juga
diperintahkan untuk menegakkan shalat, menjadikan shalat sebagai kunci hidayah
Allah, dan orang yang melalaikan shalat dengan mengulur waktu hingga lewat dari
batas mendapatkan ancaman dari Allah. Firman Allah dalam surat Maryam ayat 59:
(أَضاعُوا
الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَواتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا)
Artinya: “Orang-orang yang mengabaikan shalat
dan mengikuti keinginannya maka mereka kelak akan tersesat.”
Kesesatan dan buta akan jalan tujuan hidup merupakan
ancaman Allah pada mereka yang tidak pernah menghargai waktu shalat. Hidup adalah
perjalanan sementara menuju kehidupan abadi di akhirat, bila kita sudah
tersesat dari jalan yang seharusnya dilewati, bila kita sudah buta dan tidak
bisa meraba jalan yang benar, apakah kita bisa sampai pada tujuan perjalanan
kita? Hanya maya yang bisa menyampaikan kita, bukan dunia nyata.
Tiada satupun alasan atau dispensasi bagi orang Islam
untuk meninggalkan shalat, walaupun di tengah-tengah perjalanan, dalam keadaan
aman atau takut, sehat atau kritis, dan bahkan sekarat pun shalat masih harus
tetap dilaksanakan. Bukanlah sebuah alasan tidak bisa berdiri hingga muslim
meninggalkan shalat, bukanlah alasan bagi orang yang tidak mengetahui kiblat untuk
meninggalkan shalat, dan bukanlah alasan tidak memiliki baju bisa meninggalkan
shalat, sebab shalat masih tetap bisa dilaksanakan dengan posisi duduk bagi
yang tidak mampu berdiri, berbaring bagi yang tidak bisa duduk, kedipan mata
bagi yang tidak tidak bisa keduanya, dan isyarat hati bagi yang tidak mampu
ketiga-tiganya. Demikian pula, boleh menjalankan shalat dalam keadaan telanjang
bagi orang yang tidak memiliki baju sama sekali. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 238:
(حَافِظُوا عَلَى
الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ)
Artinya: “Peliharalah semua shalat
dan shalat Wustha. Dan laksanakanlah shalat karena Allah dengan khusyuk.”
Keislaman seseorang bukan dilihat dari KTP atau EKTPnya, namun Nabi Muhammad menjadikan shalat sebagai
tanda keislaman, menjadikan shalat sebuah syiar pemisah antara orang Islam dan orang kafir, Rasul saw
menyamakan orang yang meninggalkan shalat dengan orang yang tertimpa musibah
baik dalam segi harta maupun keluarganya dan ia seakan-akan hidup dalam kesendirian
sebagaimana sabda Rasul saw dalam Hadits riwayat Ibnu Hibban:
(مَنْ فَاتَتْهُ صَلَاةٌ
فَكَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ)
Artinya: “Barang siapa meninggalkan
satu shalat saja maka ia bagaikan orang yang hidup dalam
kesepian tanpa keluarga dan hartanya.”
Hadits di atas menjelaskan bahwa satu
kali saja kita meninggalkan shalat bagaikan orang yang terkena musibah dalam
keluarga dan hartanya sehingga hidup dalam keadaan menyendiri tanpa adanya sanak
famili yang menemani dan tidak memiliki satu harta pun, apalagi jika kita
meninggalkan semua shalat lima waktu yang telah diperintahkan Allah dan
Rasul-Nya?
Kehidupan orang yang menjalankan
shalat selalu diterangi oleh cahaya terang benderang sehingga perjalanan
di dunia tidak berada dalam gelap gulita. Hidup penegak
shalat layaknya orang yang mendapatkan hidayah dari Allah sehingga hidupnya
tidak tersesat dari jalan lurus yang diridlai Allah. Orang yang selalu istiqamah melaksanakan shalat akan selamat kelak
di akhirat. Sedangkan orang yang melalaikan shalat selalu dalam keadaan gelap,
tanpa adanya petunjuk, tidak selamat di akhirat, dan pada hari kiamat kelak ia
akan bersama Qarun, Firaun, Haman, dan Ubai bin Khalaf. Penjelasan ini
tercantum dalam Hadits Rasul saw yang
diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban:
(أَنَّهُ
ذَكَرَ الصَّلاَةَ يَوْمًا ، فَقَالَ : مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ
نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ لَمْ
يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يكُنْ لَهُ نُورٌ ، وَلاَ بُرْهَان ، وَلاَ نَجَاة
وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ ، وَفِرْعَونَ ، وَهَامَانَ ،
وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ)
Artinya: “Sesungguhnya pada suatu
ketika Rasul saw mengingatkan shalat. Beliau berkata: “Barang siapa menjaga shalat
maka ia mendapatkan cahaya, petunjuk, dan mendapatkan keselamatan kelak di
akhirat. Dan barang siapa tidak menjaga shalatnya maka ia tidak mendapatkan
cahaya, petunjuk, tidak selamat kelak pada hari kiamat, dan ia bersama dengan
Qarun, Firaun, Haman, dan Ubai bin Khalaf.”
Penjelasan ulama tentang Hadits di
atas adalah orang yang meninggalkan shalat disebabkan kesibukan harta maka
kelak ia akan bersama dengan Qarun, orang yang lalai akan kewajiban shalat
dengan alasan kesibukan mengatur kekuasaan yang ia emban maka hari kiamat ia
akan bersama Firaun, peninggal shalat sebab kesibukan jabatan akan bersama
Haman, dan bersama Ubai bin Khalaf bagi orang yang meninggalkan shalat sebab
kesibukan dengan harta duniawinya.[1]
Lebih dari itu, orang yang meninggalkan
shalat bisa dinobatkan sebagai orang kafir,
sebab dalam Hadits Rasul saw menjelaskan: “Perjanjian antara kita
(orang Islam) dan orang munafik adalah shalat. Orang yang meninggalkan shalat
maka ia tergolong orang kafir.” Oleh karena itu, tidak heran bila semua ulama Fikih
menyatakan wajib hukumnya menjalankan ibadah shalat dan bagi peninggal shalat
dihukumi kafir.[2]
Tidak heran bila dalam al-Qur’an, Hadits
Rasul saw, dan perkataan ulama Fikih sangat menganjurkan dan memperketat agar
menegakkan shalat lima waktu, sebab orang yang meninggalkan shalat bisa dihukumi
sebagai orang kafir dan keluar dari ajaran agama Islam. Bila orang Islam tidak
mengerjakan shalat maka dikhawatirkan orang tersebut kehilangan kontrol kemudian keluar dari
iman
kepada Allah dan Rasul-Nya.
Keterangan di atas merupakan sebuah
cuplikan dari posisi shalat dalam agama Islam. Ketika diteliti lagi, shalat
adalah pertama kalinya ibadah yang diwajibkan Allah pada semua orang Islam.
Shalat diwajibkan di Makkah tiga tahun sebelum
diperintahkannya Rasul saw untuk berhijrah ke Madinah. Metode
penyampaian kewajiban shalat pun berbeda dengan metode penyampaian ibadah lain,
sebab posisi semua ibadah selain shalat diwajibkan di bumi, sedangkan hanya
ibadah shalatlah yang posisinya diwajibkan di atas langit sewaktu Isra’ dan
Mi’raj dengan menggunakan dialog langsung dari Allah pada Nabi kita Muhammad
saw.
Oleh karena itu, bila kita muslim atau
muslimah, mencintai Allah, Rasul-Nya, agama Islam, percaya kebenaran agama Islam,
dan hanya agama Islam agama paling benar maka mari kita bersama merenungi
kewajiban shalat, saling mengoreksi diri dan menegakkan shalat lima waktu dengan
harapan kita semua bisa menjadi hamba yang diridlai, dan mendapatkan surga
Allah di akhirat, serta agar kita
tidak tergolong dalam katagori orang-orang Islam KTP, orang yang mendapatkan predikat
kafir, orang yang buta, dan tersesat.
No comments:
Post a Comment